Logo

 

 

Apakah Orang yang Sudah Meninggal Bisa Mendengar Suara Keluarganya? Ini Penjelasan Menurut Islam

blog-img Refleksi www.ayasophia.sch.id
Aya Sophia Islamic School
Aya Sophia Islamic School
Dipublikasikan: 19/10/2026
Dilihat: 14 x

Pernahkah kamu berdiri di depan makam seseorang yang sangat dicintai, kemudian berbicara kepadanya seolah-olah ia masih berada di dekatmu?

Mungkin kamu pernah mengunjungi makam ayah, ibu, pasangan, atau anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Di tengah suasana yang sunyi, kamu mengucapkan salam, menyampaikan kerinduan, atau menceritakan berbagai hal yang belum sempat disampaikan semasa mereka hidup.

Namun, pernahkah terlintas sebuah pertanyaan: apakah orang yang sudah meninggal benar-benar bisa mendengar suara keluarga yang datang mengunjunginya?

Pertanyaan ini tidak hanya berkaitan dengan perasaan kehilangan, tetapi juga menyentuh persoalan kehidupan setelah kematian yang dalam Islam dikenal sebagai alam barzakh.

Menariknya, terdapat sejumlah hadis sahih yang menjelaskan bahwa orang yang telah meninggal dapat mendengar dalam keadaan tertentu. Namun, apakah hal tersebut berarti mereka selalu mendengar setiap perkataan orang yang masih hidup?

Mari kita memahami persoalan ini berdasarkan Al-Qur’an, hadis sahih, dan penjelasan para ulama.

1. Hadis Sahih Menjelaskan Orang Meninggal Dapat Mendengar Langkah Kaki

Salah satu dalil yang paling sering dijadikan rujukan terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya dan orang-orang yang mengantarkannya mulai meninggalkan tempat tersebut, orang yang meninggal itu dapat mendengar suara langkah kaki mereka.

Hadis ini tercantum dalam Sahih al-Bukhari nomor 1338.

Dalam kelanjutan hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dua malaikat kemudian datang untuk menanyai orang yang telah meninggal.

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah SWT dapat memberikan kemampuan mendengar kepada seseorang yang telah meninggal dalam keadaan tertentu.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami.

Hadis tersebut tidak menyatakan bahwa orang yang meninggal dapat mendengar seluruh percakapan manusia setiap saat. Keterangan yang diberikan Rasulullah SAW berkaitan dengan keadaan tertentu setelah seseorang dikuburkan.

Oleh karena itu, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa semua orang yang telah meninggal selalu mendengar apa pun yang dikatakan oleh keluarganya.

Sumber: Sahih al-Bukhari, hadis nomor 1338.

2. Rasulullah SAW Pernah Berbicara kepada Orang-Orang yang Telah Meninggal

Peristiwa lain yang sering menjadi pembahasan terdapat dalam hadis mengenai Perang Badar.

Setelah peperangan tersebut, Rasulullah SAW berbicara kepada sejumlah pemimpin kaum Quraisy yang telah terbunuh.

Beliau menyebut nama mereka dan menanyakan apakah mereka telah mendapati kebenaran janji Allah SWT.

Umar bin Khattab RA kemudian bertanya bagaimana Rasulullah SAW dapat berbicara kepada orang-orang yang telah meninggal.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka dapat mendengar perkataan beliau, tetapi tidak mampu memberikan jawaban.

Peristiwa ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim nomor 2874.

Hadis tersebut menjadi salah satu dalil yang digunakan dalam pembahasan mengenai kemampuan orang meninggal untuk mendengar.

Namun, para ulama memiliki pembahasan mengenai apakah kemampuan mendengar dalam peristiwa tersebut berlaku secara umum atau merupakan keadaan khusus yang Allah SWT berikan.

Karena itu, peristiwa tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk memastikan bahwa setiap orang yang meninggal selalu mendengar seluruh percakapan manusia.

Sumber: Sahih Muslim, hadis nomor 2874.

3. Mengapa Al-Qur’an Menyebutkan Orang di Dalam Kubur Tidak Dapat Mendengar?

Dalam Al-Qur’an, terdapat ayat yang sekilas tampak berbeda dengan hadis-hadis sebelumnya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Fatir ayat 22:

وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَّنْ فِي الْقُبُورِ

Artinya:

“Dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.”

(QS. Fatir: 22)

Lalu, bagaimana memahami ayat ini?

Dalam sejumlah penafsiran, ayat tersebut dipahami sebagai perumpamaan mengenai orang-orang yang menolak petunjuk Allah SWT.

Sebagaimana orang yang telah meninggal tidak dapat merespons seruan sebagaimana manusia yang hidup, orang yang menutup hatinya dari kebenaran juga tidak mengambil manfaat dari petunjuk yang disampaikan.

Para ulama juga membahas hubungan ayat tersebut dengan hadis-hadis sahih yang menyebutkan kemampuan mendengar pada orang yang telah meninggal.

Sebagian ulama memahami bahwa orang yang meninggal dapat mendengar dalam keadaan tertentu atas kehendak Allah SWT. Sementara itu, terdapat perbedaan pendapat mengenai sejauh mana kemampuan tersebut berlaku.

Perbedaan ini menunjukkan pentingnya memahami ayat Al-Qur’an berdasarkan konteks dan penjelasan para ulama, bukan hanya berdasarkan satu potongan terjemahan.

Dengan demikian, kita tidak seharusnya menggunakan satu ayat atau satu hadis untuk membuat kesimpulan yang terlalu luas mengenai seluruh keadaan manusia setelah meninggal.

4. Apakah Orang Meninggal Mendengar Ketika Keluarganya Datang Berziarah?

Inilah pertanyaan yang sering muncul ketika seseorang mengunjungi makam orang yang dicintainya.

Bayangkan seorang anak datang ke makam ibunya. Ia mengucapkan salam, kemudian menceritakan kehidupannya setelah sang ibu meninggal.

Mungkin ia berkata bahwa dirinya sudah menikah, memiliki anak, atau berhasil mencapai sesuatu yang dahulu menjadi harapan ibunya.

Di tengah kerinduan tersebut, muncul pertanyaan apakah sang ibu benar-benar mendengar cerita anaknya.

Dalam Islam, terdapat dalil sahih bahwa orang yang meninggal dapat mendengar dalam keadaan tertentu.

Namun, tidak ada dasar yang cukup untuk memastikan bahwa setiap orang yang meninggal selalu mendengar seluruh perkataan keluarganya ketika berziarah.

Persoalan ini berkaitan dengan alam barzakh, yaitu kehidupan setelah kematian hingga datangnya hari kebangkitan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 100 bahwa di hadapan mereka terdapat barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.

Ayat tersebut menjelaskan keberadaan alam barzakh, tetapi tidak merinci bahwa setiap orang yang telah meninggal dapat mendengar semua pembicaraan keluarganya.

Karena itu, kemampuan mendengar pada orang yang telah meninggal tidak boleh dipastikan secara mutlak tanpa dalil yang jelas.

5. Rasulullah SAW Mengajarkan Salam kepada Penghuni Kubur

Meskipun kemampuan orang meninggal untuk mendengar seluruh percakapan masih menjadi pembahasan para ulama, Islam memiliki tuntunan yang jelas mengenai ziarah kubur.

Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk mengucapkan salam dan mendoakan penghuni kubur.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim nomor 975, terdapat bacaan salam:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ

Assalāmu ‘alaikum ahlad-diyāri minal-mu’minīna wal-muslimīn.

Artinya:

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni tempat tinggal dari kalangan orang-orang beriman dan kaum Muslimin.”

Dalam kelanjutan doa tersebut, terdapat permohonan keselamatan kepada Allah SWT bagi orang-orang yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

Sumber: Sahih Muslim, hadis nomor 975.

Hadis ini menunjukkan bahwa mengucapkan salam kepada penghuni kubur merupakan bagian dari tuntunan Rasulullah SAW.

Namun, adanya tuntunan mengucapkan salam tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap penghuni kubur selalu mendengar seluruh perkataan manusia.

Yang jelas, umat Islam dianjurkan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dan memohonkan ampunan kepada Allah SWT.

6. Apakah Orang Tua yang Sudah Meninggal Mengetahui Kerinduan Anaknya?

Kehilangan orang tua merupakan pengalaman yang dapat meninggalkan kesedihan mendalam.

Ada anak yang masih mengingat suara ibunya ketika memanggil namanya. Ada pula yang merindukan nasihat ayahnya atau kebiasaan sederhana yang dahulu terasa biasa saja.

Ketika orang tua telah meninggal, kerinduan tersebut terkadang membuat seseorang ingin kembali berbicara kepada mereka.

Namun, apakah orang tua yang telah meninggal mengetahui bahwa anaknya sedang merindukan mereka?

Dalam persoalan ini, kita tidak dapat memastikan secara mutlak apa yang diketahui atau didengar oleh seseorang di alam barzakh tanpa dalil yang jelas.

Akan tetapi, Islam mengajarkan bahwa seorang anak tetap dapat mendoakan kedua orang tuanya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 24:

رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Rabbirhamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā.

Artinya:

“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

(QS. Al-Isra: 24)

Ayat ini mengajarkan pentingnya memohonkan kasih sayang Allah SWT bagi kedua orang tua.

Selain itu, dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim nomor 1631, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya.

Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa doa seorang anak merupakan salah satu kebaikan yang dapat terus memberikan manfaat bagi orang tuanya setelah meninggal.

Karena itu, ketika merindukan orang tua yang telah tiada, seorang anak dapat memperbanyak doa dan memohon kepada Allah SWT agar memberikan ampunan serta rahmat kepada mereka.

7. Apakah Orang Meninggal Bisa Mengetahui Keadaan Keluarganya yang Masih Hidup?

Selain persoalan mendengar suara, sebagian orang juga bertanya apakah orang yang telah meninggal mengetahui keadaan keluarganya di dunia.

Misalnya, apakah seorang ayah yang telah meninggal mengetahui bahwa anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan? Apakah seorang ibu mengetahui bahwa cucunya telah lahir?

Pertanyaan seperti ini sering muncul karena hubungan emosional antara anggota keluarga tidak serta-merta hilang setelah kematian.

Namun, kita perlu membedakan antara harapan manusia dan pengetahuan mengenai alam gaib.

Tidak ada dasar yang cukup untuk memastikan bahwa seluruh orang yang meninggal mengetahui setiap perkembangan kehidupan keluarganya.

Terdapat sejumlah riwayat dan pembahasan ulama mengenai keadaan ruh serta kemungkinan sampainya informasi tertentu kepada orang yang telah meninggal. Akan tetapi, riwayat-riwayat tersebut memiliki pembahasan tersendiri mengenai keabsahan dan maknanya.

Oleh karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa orang yang meninggal selalu mengetahui seluruh aktivitas anggota keluarganya.

Dalam perkara gaib, umat Islam perlu berpegang pada keterangan Al-Qur’an dan hadis yang dapat dipertanggungjawabkan.

8. Apa yang Sebaiknya Dilakukan Ketika Merindukan Orang yang Telah Meninggal?

Merindukan seseorang yang telah meninggal merupakan perasaan manusiawi.

Islam tidak melarang seseorang merasa sedih karena kehilangan orang yang dicintainya.

Rasulullah SAW sendiri pernah menunjukkan kesedihan ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari nomor 1303, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mata dapat menangis dan hati dapat bersedih, tetapi seorang Muslim tetap menjaga ucapannya agar tidak bertentangan dengan keridaan Allah SWT.

Hadis ini menunjukkan bahwa kesedihan dan air mata bukan sesuatu yang bertentangan dengan keimanan.

Ketika merindukan orang yang telah meninggal, kita dapat mendoakan mereka, memohonkan ampunan kepada Allah SWT, serta meneruskan kebaikan yang pernah mereka ajarkan.

Kita juga dapat mengenang nasihat, kasih sayang, dan pengalaman berharga bersama mereka sebagai pengingat untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Dengan demikian, kerinduan tidak hanya menjadi perasaan sedih, tetapi juga dapat mendorong seseorang untuk memperbanyak amal kebaikan.

9. Kesimpulan: Bisakah Orang Meninggal Mendengar Suara Keluarganya?

Berdasarkan Al-Qur’an, hadis sahih, dan pembahasan para ulama, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat mendengar dalam keadaan tertentu atas kehendak Allah SWT.

Hadis riwayat Imam Bukhari menjelaskan bahwa seseorang yang telah dikuburkan dapat mendengar langkah kaki orang-orang yang meninggalkannya.

Sementara itu, hadis riwayat Imam Muslim menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah berbicara kepada orang-orang yang telah meninggal dalam peristiwa Perang Badar.

Namun, kedua hadis tersebut tidak cukup untuk memastikan bahwa setiap orang yang meninggal selalu dapat mendengar seluruh perkataan keluarganya.

Persoalan mengenai kehidupan di alam barzakh merupakan bagian dari perkara gaib yang tidak seluruh rinciannya diketahui manusia.

Jadi, orang yang telah meninggal dapat mendengar dalam keadaan tertentu sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih. Namun, apakah mereka selalu mendengar suara keluarga yang datang berziarah tidak dapat dipastikan secara mutlak.

Bagi seseorang yang merindukan ayah, ibu, pasangan, atau anggota keluarga yang telah meninggal, Islam telah memberikan tuntunan yang jelas, yaitu mendoakan mereka dan memohonkan ampunan kepada Allah SWT.

Kita mungkin tidak mengetahui apakah mereka mendengar setiap kata yang kita ucapkan. Namun, kita dapat terus memohon kepada Allah SWT agar memberikan rahmat dan ampunan kepada mereka.

Sebab, kasih sayang kepada orang yang telah meninggal dapat terus diwujudkan melalui doa dan amal kebaikan.

 

Referensi Al-Qur’an dan Hadis

1. Al-Qur’an, Surah Fatir ayat 22

Tentang perumpamaan orang yang tidak dapat mendengar seruan petunjuk.

Sumber: Al-Qur’an, Surah Fatir (35): 22.

2. Al-Qur’an, Surah Al-Mu’minun ayat 99–100

Tentang alam barzakh dan kehidupan setelah kematian.

Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Mu’minun (23): 99–100.

3. Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 24

Tentang doa memohonkan kasih sayang bagi kedua orang tua.

Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Isra (17): 24.

4. Sahih al-Bukhari, hadis nomor 1338

Tentang orang yang meninggal mendengar langkah kaki orang-orang yang meninggalkan kuburnya.

5. Sahih Muslim, hadis nomor 2874

Tentang Rasulullah SAW berbicara kepada orang-orang yang telah meninggal setelah Perang Badar.

6. Sahih Muslim, hadis nomor 975

Tentang tuntunan mengucapkan salam kepada penghuni kubur.

7. Sahih Muslim, hadis nomor 1631

Tentang tiga perkara yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal, termasuk doa anak saleh.

8. Sahih al-Bukhari, hadis nomor 1303

Tentang kesedihan Rasulullah SAW ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia.