Logo

 

 

blog-img Esai www.ayasophia.sch.id
Aya Sophia Islamic School
Aya Sophia Islamic School
Dipublikasikan: 25/11/2025
Dilihat: 309 x

Guru: Penjaga Peradaban dan Arsitek Masa Depan

Dalam wawancara reflektif bersama AsisMedia, Dr. Masduki menegaskan bahwa guru bukan sekadar pengajar. Guru adalah penjaga etika, pengembang nalar, pemberi arah moral, sekaligus instrumen transformasi sosial yang paling berpengaruh di republik ini.
“Setiap guru sesungguhnya sedang membangun peradaban, batu demi batu, jiwa demi jiwa. Kita harus menyadari, masa depan bangsa tidak lahir di ruang-ruang rapat, melainkan di kelas-kelas sederhana tempat guru berdiri dengan penuh dedikasi,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan pendidikan hari ini bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi menumbuhkan karakter, kompetensi, dan kesadaran diri peserta didik agar mampu menavigasi perubahan global yang cepat, kompleks, dan tidak terduga.

Pendidikan sebagai Investasi Peradaban Jangka Panjang

Dr. Masduki mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas guru. Oleh karena itu, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus memiliki visi berjangka panjang dalam pengembangan profesi guru.
“Pendidikan adalah investasi terbesar sebuah bangsa. Guru adalah modal intelektual dan moral yang menentukan ROI peradaban kita kelak. Investasi yang diarahkan kepada guru akan kembali dalam bentuk kualitas manusia yang unggul, berkarakter, dan siap bersaing secara global,” tambahnya.

Dari perspektif kebijakan publik, ia menyoroti pentingnya desain ekosistem pendidikan yang lebih holistik—mulai dari peningkatan kesejahteraan, penjaminan mutu, hingga penguatan kapasitas pedagogik dan kepemimpinan guru.

Meneguhkan Identitas Guru sebagai Pemimpin Pembelajaran

Dalam narasinya, Dr. Masduki menyampaikan bahwa guru hari ini dituntut tidak hanya menjadi pengajar, melainkan pemimpin pembelajaran (instructional leader).
Pemimpin pembelajaran adalah sosok yang mampu:

  1. Menginspirasi arah belajar murid.
  2. Menjadi teladan moral.
  3. Memandu murid menemukan keunikan dan potensi dirinya.
  4. Menghidupkan budaya belajar yang kolaboratif, kreatif, dan reflektif.

“Guru adalah pahlawan penuntun jalan. Bukan sekadar memberi jawaban, tetapi membuka ruang bagi murid untuk bertanya, mencari, dan tumbuh. Itulah esensi pendidikan yang sesungguhnya.”

Dimensi Spiritual dalam Pengabdian Guru

Di balik analisis akademik, Dr. Masduki menghadirkan hikmah spiritual yang meneduhkan:
“Dalam tradisi Islam, mendidik adalah amal jariyah yang pahalanya mengalir tanpa putus. Guru adalah pewaris para nabi—pembawa cahaya, penjaga akhlak, dan penyeru kebijaksanaan. Setiap peluh yang jatuh, setiap lelah yang dipikul, semuanya menjadi saksi pengabdian di hadapan Allah Yang Maha Pengasih.”

Narasi ini mengingatkan publik bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi medan pengabdian yang bernilai abadi.

Seruan untuk Menguatkan Ekosistem Pendidikan

Menutup refleksinya, Dr. Masduki menyeru seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Hari Guru Nasional 2025 bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi momentum memperkuat komitmen bersama.
Indonesia membutuhkan kebijakan yang lebih progresif, kolaborasi yang lebih kuat, dan budaya apresiasi yang lebih manusiawi kepada para guru.

“Jika ingin melihat Indonesia 2045 yang maju, adil, dan beradab, lihatlah bagaimana kita memperlakukan guru hari ini. Bangsa ini akan besar jika menjadikan guru sebagai subjek utama pembangunan manusia, bukan sekadar pelengkap sistem.”

---

Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Semoga para guru Indonesia terus menjadi cahaya yang tidak pernah padam, menuntun generasi bangsa menuju masa depan yang bermartabat.
Dan semoga Allah melimpahkan keberkahan atas setiap langkah pengabdian mereka.

REPORTASE MEDIA ONLINE
Memperingati Hari Guru Nasional 2025
Oleh: Dr. Masduki Asbari – Akademisi, Praktisi Pendidikan, dan Arsitek Transformasi SDM