Astronomi dalam Peradaban: Dari Kalender Hijriah hingga Navigasi Laut
Penelitian
www.ayasophia.sch.id
Aya Sophia Islamic School
Dipublikasikan: 21/09/2025Dilihat: 196 x
Sejak manusia pertama kali menengadah ke langit malam, rasa ingin tahu tentang benda-benda bercahaya di angkasa telah menjadi bagian dari peradaban. Astronomi bukan sekadar ilmu modern dengan teleskop canggih, melainkan pengetahuan kuno yang telah membantu umat manusia menata kehidupan, menentukan arah, hingga membangun kebudayaan.
Astronomi dan Sistem Penanggalan
Sejarah menunjukkan bahwa astronomi sangat berperan dalam menciptakan sistem penanggalan.
- Mesir Kuno
Mereka memperhatikan kemunculan bintang Sirius (Canopus) setiap tahun. Fenomena ini selalu bertepatan dengan datangnya banjir Sungai Nil, yang menjadi penentu musim tanam. Dari pengamatan itulah lahir kalender berbasis matahari.
- Peradaban Islam
Dunia Islam menggunakan pergerakan bulan untuk menyusun kalender Hijriah. Penentuan awal bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha hingga kini masih bergantung pada rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit muda). Hal ini menunjukkan betapa erat hubungan astronomi dengan aspek religius dan budaya.
- Bangsa Maya dan Cina Kuno
Bangsa Maya menyusun kalender yang sangat akurat berdasarkan peredaran matahari dan planet. Sementara itu, astronomi Cina kuno digunakan untuk meramalkan musim dan juga mengatur upacara keagamaan serta kenegaraan.
Navigasi Laut: Bintang sebagai Pemandu
Jauh sebelum manusia mengenal kompas, GPS, atau peta digital, bintang telah menjadi penunjuk jalan yang paling setia bagi para pelaut.
Di Belahan Utara
Rasi bintang Biduk Besar (Ursa Major) digunakan untuk menemukan Bintang Utara (Polaris), yang selalu menunjuk ke arah utara.
Di Belahan Selatan
Para pelaut Nusantara mengenal rasi bintang Crux (Salib Selatan) sebagai acuan arah. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun untuk membantu pelayaran antarpulau.
Perdagangan Dunia
Berkat astronomi, bangsa Arab, India, dan Nusantara bisa berlayar melintasi samudera untuk berdagang rempah. Bahkan penjelajah Eropa seperti Vasco da Gama dan Columbus pun mengandalkan bintang untuk menemukan “dunia baru”.
Astronomi dalam Kehidupan Sehari-hari
Astronomi tidak hanya terbatas pada kalender dan navigasi, tetapi juga meresap ke dalam kehidupan sehari-hari:
Pertanian: Petani tradisional menentukan musim tanam dengan melihat posisi matahari dan bulan.
Ibadah: Penentuan waktu shalat dalam Islam sangat bergantung pada posisi matahari.
Filosofi dan Budaya: Banyak mitologi, legenda, dan bahkan seni terinspirasi dari benda langit. Di Yunani kuno, konstelasi diberi nama dewa-dewi, sementara di Nusantara muncul cerita rakyat tentang “Bintang Waluku” yang identik dengan rasi Orion.
Dari Astronomi ke Astrologi
Perlu dicatat bahwa astrologi (ramalan zodiak, nasib, dan peruntungan) sebenarnya berakar dari pengamatan astronomi kuno. Meski kini dianggap berbeda jalur, fakta ini menunjukkan bahwa sejak dulu manusia meyakini langit memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan di bumi.
Astronomi Modern: Meneruskan Rasa Ingin Tahu
Kini, astronomi berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang sangat maju. Teleskop luar angkasa Hubble hingga James Webb Space Telescope memungkinkan manusia melihat ke galaksi yang sangat jauh. Penelitian tentang eksoplanet membuka kemungkinan adanya kehidupan lain di luar bumi. Semua ini berawal dari pengamatan sederhana manusia terhadap bintang ribuan tahun lalu.
Penutup: Langit sebagai Cermin Peradaban
Astronomi bukan hanya sekadar ilmu tentang bintang, planet, dan galaksi. Ia adalah warisan peradaban yang membantu manusia menghitung waktu, mengarungi lautan, menanam pangan, hingga menjalankan ibadah. Dari kalender Hijriah hingga navigasi laut, dari mitologi kuno hingga teleskop modern, astronomi selalu hadir sebagai jembatan antara rasa ingin tahu manusia dan keindahan alam semesta.
Menatap langit, kita sebenarnya sedang menatap sejarah — sejarah manusia, budaya, dan ilmu pengetahuan yang membentuk peradaban hingga hari ini.

