Logo

 

 

BKTKI–DMI Banten: Dari Administrasi Menuju Transformasi Tata Kelola

blog-img Pendidikan www.ayasophia.sch.id
Aya Sophia Islamic School
Aya Sophia Islamic School
Dipublikasikan: 22/02/2026
Dilihat: 7 x

Organisasi sosial-keagamaan hari ini tidak lagi cukup dinilai dari kerapian struktur dan kelengkapan administrasi. Dunia berubah cepat, kebutuhan umat semakin kompleks, dan tantangan pendidikan anak usia dini semakin berat. Dalam konteks ini, ukuran keberhasilan organisasi seperti BKTKI–DMI Provinsi Banten bukan lagi berapa banyak kegiatan terlaksana, tetapi seberapa besar perubahan nyata yang ditinggalkan.

Transformasi yang dibutuhkan BKTKI–DMI bukan transformasi kosmetik, melainkan transformasi berdampak—yakni perubahan cara kerja organisasi yang secara langsung meningkatkan mutu guru, kualitas layanan TK Islam, dan kepercayaan publik terhadap pendidikan berbasis masjid.

Transformasi Berdampak: Apa yang Berubah, untuk Siapa, dan Mengapa

Transformasi berdampak selalu dimulai dengan pertanyaan jujur:
_Apa yang benar-benar berubah di lapangan setelah organisasi bergerak?_
Dalam kerangka BKTKI–DMI, dampak itu setidaknya harus terlihat pada tiga level.

Pertama, pada guru TK Islam.

Transformasi tidak bermakna bila guru tetap berjalan sendiri: kompetensinya stagnan, kesejahteraannya terabaikan, dan posisinya diperlakukan sebagai relawan pelengkap. Organisasi berdampak memastikan bahwa setiap kebijakan dan program bermuara pada peningkatan kapasitas guru—baik pedagogik, spiritual, maupun profesional—serta membuka jalan advokasi agar mereka diakui dalam sistem pendidikan daerah.

Kedua, pada anak dan proses belajar.

Dampak sejati tercermin dari perubahan kualitas pembelajaran: lebih ramah anak, berkarakter, bernilai Islam, dan relevan dengan tantangan zaman. TK Islam berbasis masjid tidak boleh hanya religius secara simbolik, tetapi unggul dalam membentuk akhlak, literasi awal, dan kemandirian anak.

Ketiga, pada ekosistem masjid dan masyarakat.

Transformasi berdampak menjadikan masjid hidup bukan hanya pada waktu shalat, tetapi sebagai pusat pendidikan keluarga. Orang tua terlibat, takmir masjid merasa memiliki, dan masyarakat melihat TK Islam sebagai aset bersama, bukan beban operasional.

Dari Program Rutin ke Agenda Perubahan

Perbedaan mendasar antara administrasi dan transformasi terletak pada orientasi kerja. Administrasi bertanya, _“apa yang harus kita kerjakan?”_; transformasi bertanya, _“perubahan apa yang harus kita hasilkan?”_

Karena itu, BKTKI–DMI Banten perlu berani menggeser fokus dari daftar kegiatan menuju agenda perubahan strategis, misalnya:

• menaikkan standar mutu minimal TK Islam berbasis masjid,
• memastikan setiap guru mendapat penguatan kompetensi berkelanjutan,
• dan mendorong pengakuan formal PAUD Islam dalam kebijakan pendidikan daerah.

Agenda seperti ini menuntut organisasi untuk bekerja lintas sektor, berbasis data, dan berani keluar dari zona nyaman rutinitas.

Tata Kelola sebagai Mesin Dampak

Transformasi berdampak tidak lahir dari semangat semata, tetapi dari tata kelola yang dirancang untuk menghasilkan dampak. Ini berarti setiap bidang dan struktur dalam BKTKI–DMI harus menjawab satu pertanyaan kunci:
_Fungsi ini berkontribusi pada perubahan apa?_
Dengan cara ini, organisasi bergerak sebagai sistem yang hidup, bukan sekadar kumpulan jabatan.

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Kehadiran

Organisasi berdampak berani meninggalkan ukuran semu. Kehadiran fisik dalam kegiatan tidak otomatis bermakna perubahan. Yang lebih penting adalah indikator dampak, seperti:
• meningkatnya kualitas pembelajaran di TK binaan,
• bertambahnya guru yang naik kompetensi dan percaya diri,
• dan terbukanya ruang kebijakan bagi PAUD Islam di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Tanpa indikator semacam ini, organisasi mudah lelah, namun sulit membuktikan manfaatnya.

Transformasi sebagai Amanah Peradaban

Dalam perspektif keislaman, pendidikan anak usia dini adalah amanah besar. Nabi mengingatkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, dan lingkungannyalah yang menentukan arah perkembangannya. Maka, menguatkan BKTKI–DMI sejatinya adalah ikhtiar menjaga fitrah generasi Banten.

Transformasi berdampak bukan ambisi kelembagaan, melainkan tanggung jawab moral dan sejarah. Ia menuntut keberanian untuk berubah, kerendahan hati untuk belajar, dan keteguhan untuk konsisten.

Dari administrasi menuju transformasi. Dari rutinitas menuju dampak. Di situlah BKTKI–DMI Banten tidak hanya hadir sebagai organisasi, tetapi sebagai penggerak masa depan umat dan bangsa.(mas)


Oleh:
Dr. H. Masduki Asbari, S.T., S.M., M.M.
Anggota Dewan Pakar BKTKI-DMI Banten