Logo

 

 

Dr. Masduki Asbari Gagas Konsep “ZOTS”: Revolusi Taksonomi Bloom di Era AI

blog-img Penelitian www.ayasophia.sch.id
Kang Masduki
Kang Masduki
Dipublikasikan: 05/11/2025
Dilihat: 53 x

 

Dr. Masduki Asbari Gagas Konsep “ZOTS”: Revolusi Taksonomi Bloom di Era AI

AsisMedia — Tangerang.
Fenomena copy-paste dari kecerdasan buatan (AI) kini melahirkan gejala baru yang mengkhawatirkan: kematian nalar manusia. Dalam dunia akademik, fenomena ini dikenal sebagai brain rot—suatu kondisi di mana manusia berhenti berpikir karena terlalu bergantung pada mesin. Menanggapi situasi ini, Dr. Masduki Asbari, akademisi dari Universitas Insan Pembangunan Indonesia dan Aya Sophia Islamic School, menggagas sebuah konsep revolusioner bernama ZOTS (Zero Order Thinking State), yang menandai “tingkat nol” dalam Taksonomi Bloom—suatu wilayah non-kognitif di bawah level C1 Remembering.

Dalam wawasan mendalamnya yang dimuat di Jurnal Literaksi Vol. 3 No. 2 (2025), Dr. Masduki menyoroti kondisi siswa masa kini yang kerap menyalin hasil AI tanpa berpikir, menganalisis, atau memahami. “ZOTS adalah fase ketika peserta didik tidak berpikir sama sekali. Mereka hanya menempelkan hasil dari mesin tanpa ada aktivasi mental. Ini bukan sekadar level rendah berpikir—ini adalah nihil berpikir,” ujarnya.

Lebih jauh, Dr. Masduki menyusun Matriks C0–C6 versi baru Taksonomi Bloom, menambahkan level C0 Copy-pasting sebagai dasar bagi pengembangan kesadaran epistemik di dunia pendidikan. Matriks ini tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis pedagogis, tetapi juga sebagai peta reflektif bagi para pendidik untuk mengenali gejala ZOTS di kelas dan mengatasinya melalui desain pembelajaran yang etis dan reflektif.

Menurutnya, pendidikan abad ke-21 tidak boleh berhenti pada transfer informasi. “AI boleh membantu, tetapi jangan sampai menggantikan proses berpikir. Tugas guru adalah menjaga agar siswa tetap manusia—mampu mengingat, memahami, menganalisis, dan mencipta dengan kesadaran,” tegasnya.

Pemikiran Dr. Masduki ini menjadi seruan moral bagi dunia pendidikan. Ia mengingatkan bahwa generasi yang tumbuh dalam kemudahan digital berisiko kehilangan kemampuan berpikir kritis jika tidak dibimbing dengan benar. “ZOTS adalah alarm akademik kita. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan tentang kecepatan memperoleh jawaban, tetapi tentang kedalaman memahami pertanyaan,” tambahnya.

Melalui konsep ZOTS dan Matriks C0–C6, Dr. Masduki menawarkan paradigma baru: bahwa kecerdasan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang mendapatkan jawaban, tetapi dari sejauh mana ia mampu berpikir secara sadar, kritis, dan etis di tengah derasnya arus informasi.

Sebagai penutup, ia menegaskan: “AI bisa menulis kalimat, tetapi tidak bisa menggantikan kesadaran. Manusia harus tetap menjadi subjek pengetahuan, bukan hanya konsumen data.”