Menjadi Narator Bangsa: Gagasan Besar Dr. Masduki Asbari Tentang Literasi Dan Kepemimpinan
Opini
www.ayasophia.sch.id
Aya Sophia Islamic School
Dipublikasikan: 08/09/2025Dilihat: 158 x
Cikupa, Banten – Senin, 8 September 2025, Dalam semarak peringatan Hari Literasi Internasional yang jatuh pada hari ini, Media Online berkesempatan mewawancarai Dr. H. Masduki Asbari, ST., MM., sosok visioner di balik kesuksesan Aya Sophia Islamic School—sekolah unggulan jenjang KB/TK, SD, dan SMP yang konsisten meraih penghargaan sebagai Sekolah Literasi Nasional setiap tahunnya.
Di tengah perayaan yang mengusung tema “Promoting Literacy in the Digital Era”, Dr. Masduki menyampaikan gagasan filosofis yang menggugah: bahwa esistensi seorang pribadi terletak pada narasi tentang dirinya. “Kita semua adalah narator bagi kehidupan kita sendiri,” ujarnya. “Dan kekuatan narasi itu—apakah ia logis, etis, dan berdampak—sangat bergantung pada kemampuan literasi kita.”
Literasi: Pondasi Kepemimpinan Bangsa
Menurut Dr. Masduki, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan untuk memahami, mengolah, dan menyampaikan gagasan secara bermakna. Dalam konteks kebangsaan, ia menekankan bahwa Indonesia membutuhkan para pemimpin yang mampu menjadi narator bangsa: pribadi-pribadi yang memiliki narasi kepemimpinan yang logis dan etis.
“Jika anak-anak kita didorong untuk membaca, dan setiap sekolah menghadirkan pojok baca di ruang-ruang pembelajaran, maka para pemimpin bangsa sejatinya wajib menjadikan diri mereka akrab dengan bacaan-bacaan bergizi tinggi,” tegasnya. Bacaan yang dimaksud bukan sekadar informasi, tetapi karya-karya yang memperkaya wawasan, memperdalam refleksi, dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Aya Sophia: Literasi Sebagai Spirit Pendidikan
Di Aya Sophia Islamic School, literasi telah menjadi ruh dari seluruh proses pembelajaran. Setiap ruang kelas dilengkapi dengan pojok baca tematik, dan siswa didorong untuk menulis refleksi harian sebagai bagian dari pembentukan karakter. “Kami percaya bahwa anak-anak yang terbiasa membaca dan menulis akan tumbuh menjadi pemimpin yang mampu menyusun narasi hidupnya dengan bijak,” jelas Dr. Masduki.
Literasi di Era Digital: Tantangan dan Harapan
Dalam era informasi yang serba cepat, Dr. Masduki mengingatkan bahwa literasi digital harus dibarengi dengan literasi etis. “Tanpa kemampuan memilah dan memahami, informasi hanya akan menjadi kebisingan. Literasi adalah alat untuk menyaring, merangkai, dan menyuarakan gagasan yang membangun.”
Ia menutup wawancara dengan harapan besar: “Jika literasi menjadi budaya, maka kemajuan bangsa bukan lagi mimpi, melainkan keniscayaan.”

